Thursday , 24 July 2014
Breaking News

Koperasi Itu ‘barang’ apa?! Perempuan Berkoperasi

Yang Berkeringat, Yang Sejahtera

“…sungguhpun tiap-tiap individu dan kelompok dalam masyarakat memiliki faktor produksi, Bilakah Kesejahteraan layaknya udara, yang tanpa syarat setiap individu bebas menghirupnya…”

Tidak semua orang bisa terima dengan prinsip yang terkandung dalam judul di atas, karena banyak yang bermental instan dalam meraup keuntungan tanpa kerja keras, sim salabim, huuuhhh,… sejahteralah dirinya, kelompok atau golongannya, atau keluarganya. Demikianlah fakta yang banyak terjadi dalam pengelolaan koperasi di tanah air tercinta kita ini, semuanya sudah keluar dari prinsip-prinsip yang digariskan oleh ilmu ekonomi itu sendiri, maupun para pencetus konsep koperasi, yaitu para pendiri bangsa ini.

Pertanyaannya adalah mengapa kecendrungan manusia Indonesia begitu mudahnya membelokkan hal-hal yang prinsipil demi kepentingan pragmatis yang sesaat??!! Hanya Tuhan yang tau, eeeehhhh, maap, maksud saya perlu mengurainya dengan menyandingkan kerangka analisis paradigma ilmiah dengan paradigma sosial, mengurai rentang waktu dan ruang sosial yang terlampaui sampai pada kita menemu kondisi yang sedemikian saya jelaskan tadi, rumit memang.

Kecurigaan sementara saya adalah, karena memang konsep koperasi itu sendiri tidak lahir dari pergulatan intelektual para tokoh Indonesia saat jaman kebangkitan nasional dulu, namun Bung Hatta mengadopsinya dari para aktivis Sosialis Demokrat yang memang dominan saat itu di Belanda, dan memang Bung Hatta sedang menuntut ilmu hukum di sana saat itu, semoga kecurigaan ini tidak memiliki aksioma, sebab ini berbahaya jika benar, karena dikhawatirkan Indonesia memang sama sekali tidak mempunya karya intelektual yang otentik sebagai karya kebudayaan asli Indonesia jaman modern hari ini, membosankan juga, ya!

Diskusi Interaktif di Radio

Anggap saja pengantar saya di atas itu sebagai motivasi bagi kita semua untuk berbenah, menjadi subjek etis yang selalu bergulat dengan dilemma moral jika mau melakukan, bahkan berniat untuk culas atau bohong.

Sekarang kita masuk pada pergulatan nyata kehidupan sehari-hari yang seringnya sangat sedikit memberi waktu bagi kita untuk bergulat dengan dilemma moral. Kamis, 7 Maret 2013 saya bersama dengan rekan saya, Yuliana dalam rangka tugas untuk mengisi diskusi interaktif di Radio Handayani, Kompleks Sewoko Projo, Wonosari, Kabupaten Gunungkidul yang mengangkat tema “Kesejahteraan Perempuan Melalui Koperasi, Mungkinkah?!”.

Mungkin saja, semua hal mungkin jika diperjuangkan. Namun taraf keberhasilannya sangat banyak sudut pandang yang dapat  digunakan.

Saya mewakili YSKK menjadi narasumber dalam diskusi interaktif tersebut. Bersamaan dengan saya, Dinas perdagangan, Industri, dan Koperasi Kabupaten Gunungkidul, dan bersama salah satu pengurus Koperasi Perempuan Karya Perempuan Mandiri (Kopwan KPM) yang merupakan salah satu Koperasi Perempuan binaan YSKK di Gunungkidul.

Ternyata dinas koperasi Kabupaten Gunungkidul memiliki program untuk membina kelompok-kelompok usaha mikro agar dapat mendirikan koperasi, seharusnya memang dinas memfasilitasi lebih jauh lagi kelompok-kelompok usaha mikro di masyarakat untuk dapat mendirikan koperasi.

YSKK sendiri menjalankan aktivitas pembinaan terhadap para perempuan yang tergabung dalam kelompok-kelompok usaha sampai pada titik tertentu mampu menjadi koperasi perempuan yang berbadan hukum. Materi-materi pendampingan YSKK meliputi berbagai hal yang dibutuhkan bagi perempuan untuk dapat menjalankan koperasi secara profesional, memiliki system manajerial, dan segala aktivitasnya memiliki kerangka pertanggungjawaban sesuai prinsip transparansi dan akuntabilitas.

Surakarta, 15 Maret 2013

Riyadh Ml

***

Artikel ini bisa juga dibaca di inovatorperubahan.wordpress.com

Koperasi Itu ‘barang’ apa?! Perempuan Berkoperasi

Yang Berkeringat, Yang Sejahtera

“…sungguhpun tiap-tiap individu dan kelompok dalam masyarakat memiliki faktor produksi, Bilakah Kesejahteraan layaknya udara, yang tanpa syarat setiap individu bebas menghirupnya…”

Tidak semua orang bisa terima dengan prinsip yang terkandung dalam judul di atas, karena banyak yang bermental instan dalam meraup keuntungan tanpa kerja keras, sim salabim, huuuhhh,… sejahteralah dirinya, kelompok atau golongannya, atau keluarganya. Demikianlah fakta yang banyak terjadi dalam pengelolaan koperasi di tanah air tercinta kita ini, semuanya sudah keluar dari prinsip-prinsip yang digariskan oleh ilmu ekonomi itu sendiri, maupun para pencetus konsep koperasi, yaitu para pendiri bangsa ini.

Pertanyaannya adalah mengapa kecendrungan manusia Indonesia begitu mudahnya membelokkan hal-hal yang prinsipil demi kepentingan pragmatis yang sesaat??!! Hanya Tuhan yang tau, eeeehhhh, maap, maksud saya perlu mengurainya dengan menyandingkan kerangka analisis paradigma ilmiah dengan paradigma sosial, mengurai rentang waktu dan ruang sosial yang terlampaui sampai pada kita menemu kondisi yang sedemikian saya jelaskan tadi, rumit memang.

Kecurigaan sementara saya adalah, karena memang konsep koperasi itu sendiri tidak lahir dari pergulatan intelektual para tokoh Indonesia saat jaman kebangkitan nasional dulu, namun Bung Hatta mengadopsinya dari para aktivis Sosialis Demokrat yang memang dominan saat itu di Belanda, dan memang Bung Hatta sedang menuntut ilmu hukum di sana saat itu, semoga kecurigaan ini tidak memiliki aksioma, sebab ini berbahaya jika benar, karena dikhawatirkan Indonesia memang sama sekali tidak mempunya karya intelektual yang otentik sebagai karya kebudayaan asli Indonesia jaman modern hari ini, membosankan juga, ya!

Diskusi Interaktif di Radio

Anggap saja pengantar saya di atas itu sebagai motivasi bagi kita semua untuk berbenah, menjadi subjek etis yang selalu bergulat dengan dilemma moral jika mau melakukan, bahkan berniat untuk culas atau bohong.

Sekarang kita masuk pada pergulatan nyata kehidupan sehari-hari yang seringnya sangat sedikit memberi waktu bagi kita untuk bergulat dengan dilemma moral. Kamis, 7 Maret 2013 saya bersama dengan rekan saya, Yuliana dalam rangka tugas untuk mengisi diskusi interaktif di Radio Handayani, Kompleks Sewoko Projo, Wonosari, Kabupaten Gunungkidul yang mengangkat tema “Kesejahteraan Perempuan Melalui Koperasi, Mungkinkah?!”.

Mungkin saja, semua hal mungkin jika diperjuangkan. Namun taraf keberhasilannya sangat banyak sudut pandang yang dapat  digunakan.

Saya mewakili YSKK menjadi narasumber dalam diskusi interaktif tersebut. Bersamaan dengan saya, Dinas perdagangan, Industri, dan Koperasi Kabupaten Gunungkidul, dan bersama salah satu pengurus Koperasi Perempuan Karya Perempuan Mandiri (Kopwan KPM) yang merupakan salah satu Koperasi Perempuan binaan YSKK di Gunungkidul.

Ternyata dinas koperasi Kabupaten Gunungkidul memiliki program untuk membina kelompok-kelompok usaha mikro agar dapat mendirikan koperasi, seharusnya memang dinas memfasilitasi lebih jauh lagi kelompok-kelompok usaha mikro di masyarakat untuk dapat mendirikan koperasi.

YSKK sendiri menjalankan aktivitas pembinaan terhadap para perempuan yang tergabung dalam kelompok-kelompok usaha sampai pada titik tertentu mampu menjadi koperasi perempuan yang berbadan hukum. Materi-materi pendampingan YSKK meliputi berbagai hal yang dibutuhkan bagi perempuan untuk dapat menjalankan koperasi secara profesional, memiliki system manajerial, dan segala aktivitasnya memiliki kerangka pertanggungjawaban sesuai prinsip transparansi dan akuntabilitas.

Surakarta, 15 Maret 2013

Riyadh Ml

***

Artikel ini bisa juga dibaca di inovatorperubahan.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>